Rabu, 30 Januari 2013

“내가 필요해” (FF) Part 3



Minho pov
“aku lelah... mian...”
deg...
kulihat wanita itu melangkah pergi dan menghilang dari hadapanku. Aku belum bisa bergerak, beberapa saat lalu akulah yang marah karena dia mengabaikan telpon dan pesanku. Tapi sekarang aku yang tak bisa berkata apapun.
Wanita itu saudara jauh kekasih hyung ku, kim jonghyun.. saat pertama kali mengetahuinya aku ingin tertawa, tapi moodku sedang jelek hari itu. Jadi kami bertemu dengan kesan yang buruk. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya duduk sendiri diruang kelas seni sambil tersenyum memandang taman kampus didepannya, tapi tak kusangka dia adalah saudara saekyung nunna.
***
Aku sengaja, memang aku sengaja meninggalkan hapeku disana, aku ingin ngobrol dengannya tapi dia terlihat menghindariku, jadi sengaja ku tinggalkan hapeku agar dia mencariku, haha.. dan itu berhasil, aku bisa bertemu dan bicara dengannya.
Aku memintanya jadi pacarku, itu benar-benar tidak direncanakan, aku pun terkejut saat tiba-tiba aku memintanya menjadi pacarku, aku tidak memikirkannya dengan baik.
Bosan, hanya bertemu saat senggang, hanya ngobrol yang tidak penting, aku bosan, dia berkali-kali tanya apakah boleh memberi tahu orang lain kalau kami pacaran.. oh tentu tidak, karirku terancam kalau orang tahu pacarku adalah dia, itu akan memalukan, begitulah menurutku. Belum lagi daftar tempat yang ingin ia kunjungi dan beberapa menu makanan yang ingin ia buat untukku, terlalu berlebihan, menurutku.
Benar-benar menjemukan pacaran dengan wanita seperti dia, aku mulai berpikir kenapa dulu sampai memintanya menjadi pacarku, padahal aku bahkan tidak memiliki rasa apapun padanya. Bagaimana cara memutuskan ini ya?
Sial, kenapa tiba-tiba dia tidak mengangkat telponku? Tidak membalas pesanku? Memang dia pikir dia siapa? Cuihh..
Aku mencarinya, akan kukatakan padanya aku tidak pernah menyukainya, biar dia rasakan..! seenaknya saja mengabaikanku.
Ku buka pintu ruang seni dengan keras, aku sengaja agar terdengar dramatis. Ilmu yang kudapat dari seni peran.
“ya..!!! shinji ssi..!!!” panggilku agak keras, aku ingin membuatnya tahu kalau aku sedang marah. “mwoya??” tanyanya datar kembali memandang keluar. Eh.. kenapa tanggapannya cuek sekali, hatiku mulai kesal.
“kenapa tidak mengangkat telponku??!! Kenapa tidak membalas pesanku??!!! Apa kau gila??!!!” bentakku kasar setelah berdiri didepannya. Dia menatapku, benci. Aku kaget, wajahnya benar-benar berbeda, dia terlihat sangat membenciku.
Dia berdiri menatap mataku, “ ya~ choi minho ssi... apa kau mencintaiku?” aku berkedip, tak menjawab. “apa kau menyukaiku?” tanyanya lagi, aku masih diam, masih kaget dengan perubahan sikapnya. Kulihat dia tersenyum, pahit.
“baiklah, handphone..” ucapnya meminta handphoneku, aku masih mematung, bahkan aku tidak bisa mengingat dimana kuletakkan handphone ku tadi, di ambilnya handphoneku dikantung celana, ku lihatnya menghapus no hape dan diserahkannya hape itu padaku, tanganku refleks menerimanya.
“mulai sekarang, aku akan menganggap tak pernah mengenalmu..” katanya melangkah pergi dariku, aku tersadar, tiba-tiba panik melandaku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya ingin menghentikannya.
“ige mwoya??!!!!” bentakku tiba-tiba, dia menghentikan langkahnya, “siapa yang menyuruhmu pergi??!!” tanyaku menarik tangannya, dia menepisnya.
“wae? Apa aku tidak boleh pergi? Apa aku harus selalu menuruti mu? Apa aku tak boleh melakukan apa yang ingin aku lakukan? Apa aku tidak boleh menelpon orang yang sudah memintaku menjadi pacarnya? Apa aku tidak boleh dianggap menjadi seorang kekasih?? Apa kau pikir aku ini hanya wanita bodoh..???!!! jawab akuuu...!!!!!!!” teriaknya bersama dengan pecahnya air matanya, aku sudah tidak bisa berpikir lagi, tubuhku bergetar saat melihatnya menangis dihadapanku.
“kau tidak mencintaiku kan??? Kau juga tidak menyukaiku kan??? Bahkan kau tidak tahu apa-apa tentangku.. iya kan??? Choi minho ssi..!!!” dia benar, dia benar... hanya itu yang bisa aku pikirkan.. bahkan aku baru sadar aku tak tahu apapun tentangnya, hatiku menciut.
“geurae, kau juga tidak sepenuhnya salah... aku yang bodoh sudah mempercayaimu, mengharapkanmu, sampai aku tidak bisa berpikir dengan jernih...” dia mengusap air mata dengan kasar. Aku ingin membela diri, tapi tidak bisa, aku ingin minta maaf, tapi untuk apa? Aku bahkan tidak bisa menentukan apakah aku melakukan kesalahan atau tidak.
“shinji ah~” aku menatapnya, memintanya menungguku berpikir dulu, tapi sia-sia.
“aku lelah... mian...”
Ucapan terakhirnya membuat dadaku seperti dihantam balok besar, aku mematung menatapnya menghilang dari hadapanku. Apa yang terjadi padaku????
POV end
***
***
Aku terlambat lagi, sial.
Beberapa hari ini harus lembur kerja, sunbaeku sedang cuti menikah, jadi aku kerepotan mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, bahkan sampai melupakan kalau hari ini ada ujian, ah~ benar-benar menyebalkan.
Bruukkk....
“auchh~~” aku meringis memegang keningku, iishh.. kenapa pakai acara menabrak segala sih.
“ah mian,” ku dengar suara berat seorang pria yang sekarang sedang membantuku mengambil buku-bukuku yang jatuh. “gwenchana~” balasku berusaha tersenyum, cepat ku ambil buku-bukuku dan pergi kekelas, aku hanya memikirkan wajah tu Mr.Lee yang akan sangat judes kalau aku sampai terlambat lagi. Tak kuhiraukan pria itu, yang sekarang tersenyum memandang kepergianku.
Untungnya mood Mr. Lee sedang baik hari ini, dan ujian berjalan dengan lancar. Kulangkahkan kaki dengan riang, sudah sebulan setelah berakhirnya hubunganku dengan minho, dan untungnya aku tak pernah bertemu dengannya, kudengar SHINee sedang sangat sibuk dengan album jepang mereka. Baguslah..
Kulihat ruang seni dari jauh, sudah kosong.. ingin rasanya duduk disana seperti dulu, tapi saat masuk lagi kedalam ruangan itu, aku selalu merasa dia akan datang, itu membuatku tak nyaman lagi. Ah.. sudahlah aku harus segera kembali kecafe tempatku bekerja, sebentar lagi sore, pasti akan ramai.
“esspreso special satu ya..” aku mengangguk paham, “semuanya 4000 won..” ucapku meminta bayaran pada seorang pria yang tersenyum jahil padaku, aku berkedip, mencoba berpikir apakah hari ini ada yang aneh padaku.
“jadi kau bekerja disini?” keningku berkerut, antara bingung dan kaget, setahuku pria ini cho kyuhyun kan? Member super junior? Iya bukan sih? Tapi kenapa dia seperti sudah mengenalku, “ne ?” jawabku bingung, dia menyerahkan uang kepadaku, “kalau sudah sepi, mari ngobrol..” katanya tersenyum dan duduk dibangku cafe yang dekat dengan jendela tapi tersembunyi, aku masih mematung. Apa-apaan dia..!!
Aku duduk didepannya, menunggu reaksinya, tapi dia hanya tersenyum simpul dan kembali sibuk membaca majalah. “apa kau mengenalku?” tanyaku pelan, dia menggeleng
“Ah,, mian” Aku kaget dan berusaha beranjak dari situ, “apa kau tak ingat sudah menabrakku?” ucapnya masih melihat majalah itu, hmm..? menabrak? Aku berpikir sejenak,
“ah~” aku ingat. dia menatapku dan tersenyum licik, “sudah ingat?” aku mengangguk, “jeosonghamnida soal yang tadi..” kataku membungkuk, “aku sedang buru-buru, ada ujian yang..”
“hmm.. hmm..” dia menyelaku dan menyuruhku kembali duduk, aku menurut. “baru kali ini aku ditabrak wanita yang bahkan tidak mengenaliku..” ucapnya dengan nada sedih (?) wajahku memerah, malu. Kalau dipikir-pikir benar juga, masa ada wanita yang menabrak seorang kyuhyun tapi sama sekali tidak mengenalnya, senyumku mengembang dan tertangkap oleh matanya.
“ck, kau malah tersenyum..” aku menatapnya masih tersenyum, “mian~ kyuhyun ssi..” dia hanya mengibaskan tangannya dengan (sok) cool, “lupakan..”
“tapi, apa yang kau lakukan disini? Apa mencariku?” tebakku asal, dia menoleh cepat, “mwo? Aigo aigo~ geer sekali yaa...” jawabnya sambil menatap evil padaku, aku tertawa, refleks.
Untuk beberapa saat dia membiarkaku tertawa, sudah lama aku tidak serileks ini, mungkin akibat terlalu lelah. Saat aku berhenti tertawa bibirnya masih manyun menatapku, kyeopta.
“sudah selesai?” tanyanya, aku mengangguk masih menahan tawa. “aku mencari dongsaengku.. dia kuliah dikampusmu juga..” aku mengangguk tanda mengerti, “tapi sepertinya dia belum pulang juga..” ucapnya datar, hm? Belum pulang? Cho kyuhyun? Dongsaeng? Kyu line? Minho!! Aku terkejut dengan kesimpulan yang kubuat sendiri.
“choi minho?” tanyaku padanya, dia menoleh “hm..?”
“dongsaeng yang kau cari choi minho kah?” dia mengangguk, “apa kau chingu nya?” tanyanya, aku menggeleng kuat. “aku tidak mengenalnya.” Ucapku mantap, tapi sepertinya dia tidak pedulu dan tidak tahu maksud perubahan nada suaraku, baguslah.
“ah~ aku baru ingat...” ucapnya tiba-tiba, dia menatapku, “ne ?”
“kau belum memberi tahu namamu..” katanya polos dan mendekatkan wajahnya padaku, “dan kalau kupikir-pikir baru kali ini ada wanita yang duduk semeja dengan ku setenang kau.. apa kau bukan ELF?” tanyanya.. aku tersenyum lagi, setan ini, atau begitulah ia terkenal dikalangan elf, maknae paling evil yang pernah ditemui, aku menatapnya dalam.. pria ini tidak buruk, ganteng, suaranya bagus, tinggi, wajahnya yang menatapku saat ini bahkan sangat imut, tidak ada tanda-tanda ada seekor (?) evil yang bersemayam ditubuhnya.
“shinji imnida,” jawabku, “memangnya aku harus bagaimana kalau bertemu denganmu?” tanyaku masih tersenyum. Dia merengut, jengkel “ tentu saja harus senang, kapan lagi kau bertemu penyanyi terkenal yang tampan sepertiku? Hmm?” aku tertawa lagi, dan mengangguk-angguk paham.
“baiklah, khyuhyun ssi.. apakah aku harus minta tanda tangan? Atau foto?” dia terlihat berpikir, “karena aku sedang baik, kau mendapatkan keduanya.. shin.. ji ssi?” jawabnya mengedipkan sebelah matanya (wink) dan berpose cute, aku ingin tertawa lagi, dia benar-benar manis. Dia pulang setalah kami ngobrol agak lama, hatiku terasa lega setelah berbincang dengannya, sudah beberapa kali perutku sakit karena tertawa akibat tingkahnya. Dia bahkan meminta no hapeku, aku sih tidak berharap ditelpon, hari ini saja sudah cukup menyenangkan.
***

“내가 필요해” (FF) Part 2



Kelas kembali usai, aku sudah menyeret kursi lebih dekat ke arah dinding kaca, ingin melihat taman dengan lebih jelas, kulihat pinti ruangan yang tertutup. Aku tersenyum menertawakan pikiranku sendiri yang sedikit berharap minho benar-benar datang. Bodohnya aku mempercayai kata-kata klise seperti itu.
Perlahan aku duduk di kursi, tapi saat memandang piano disamping kiriku terlintas ingin memainkannya. Saat jari-jari ini memainkan nada-nada favoritku, aku tersenyum dan tanpa sadar mulai bersenandung sendiri. Music adalh obat yang paling mujarab jika ingin mengubah mood, saat sedih mendengarkan lagu ceria, aku akan tersenyum, saat haru mendengarkan lagu sedih, aku akan menangis. Cintaku pada music mungkin memang tak sedalam musisi atau penyanyi lain, tapi bahkan seharipun tak pernah terpikir hidupku tanpa alunan music.
Eh..
Aku mendengar tepukan tangan seseorang saat jariku menyentuh nada terakhir laguku. Aku menoleh kaget. Astaga! Dia disana, duduk di kursi yang kuseret tadi dan sedang memandangku tersenyum.
“keren..” ucapnya, tapi kata itu sudah membuatku terbelalak. “ka..kau..”
Dia tersenyum, “wae? Kau tidak sadar aku disini?” tanyanya, aku berdiri, mengatur napasku.
“apa yang kau lakukan disini??” tanyaku lantang
“melihatmu bermain piano, kan?” jawabnya memastikan
“maksudku kenapa tiba-tiba kau kesini? Kau kan tidak pernah kesini? Lagipula handphone mu kan sudah kukembalikan” kataku lagi, aku benar-benar tak habis pikir kenapa dia harus ada disini.
“kata siapa aku tidak pernah kesini, ini kan kelasku juga~ aahh~ tapi biasanya aku duduk disana, bukan disini..” katanya menunjuk pohon ditaman dekat kelas yang juga dapat melihat danau dari sana. “mwo?” aku masih tak mengerti
“ya sudahlah kalau kau tak mengerti..” jawabnya cuek memandang keluar.
Kami terdiam, tapi akhirnya aku membuka pembicaraan, “kau tidak punya skejul dengan SHINee?” dia menggeleng “sedang tidak ada, nanti malam ada di mubank” dia mulai mengotak atik hapenya. “memangnya SHINee selalu sesantai ini?” dia menggeleng lagi, “baru hari ini skejul kami Cuma satu.. memang kenapa?” tanyanya menatapku.
“kau tidak lelah?”
“lelah”
“sangatkah?” dia mengangguk
“tapi sangat menyenangkan..” tambahnya, aku mengangguk
“kau, apa yang kau pikirkan setiap melihat itu..” lanjutnya menunjuk keluar, “eung..? taman itu?” dia mengangguk
“haengbok,,” jawabku, dia menoleh minta penjelasan
“hmm.. molla~ aku hanya merasa sangat bahagia saat melihatnya..” jawabku jujur, dia tersenyum dan memandang keluar lagi, “olmana choha?” tanyanya “neomuu~~” jawabku menunjujkka aegyoku. Dia mengangguk paham.
Kami terdiam lagi, “eumm.. minho ssi..” dia menoleh, “waktu itu.. maaf~~” ucapku menunduk, “waktu itu?” dia seperti tak mengerti maksudku, kuingatkan saat pertama kali kami bertemu. Wajahnya tiba-tiba merah “haha.. oh, waktu itu, aku juga minta maaf, saat itu mood ku sedang buruk..” katanya, aku tersenyum, lega.
Aku perlahan beranjak, dia melihatku “aku harus pulang..” kataku, “wae? Ini kan belum sore..” tanyanya “aku harus kerja” jawabku dan bersiap-siap pergi.
“hmm.. shinji ssi..” ucapnya menghentikanku, aku menoleh “ne ?”
“kau sudah punya pacar?” aku menyengit, “ani, wae?”
“mau, jadi pacarku?” aku tersentak, hampir menendang kaki kursi didepanku, “ne..????”
Dia berdiri dan berjalan kearahku, “handphone..” katanya meminta hapeku, kuserahkan tanpa perlawanan (?), dia menyimpan nopenya di hapeku dan menelpon hapenya.
“nanti ku telpon..” ucapnya mengembalikan hapeku dan pergi. Aku hanya membeku, tidak tau harus berbuat apa.
***
“tidak boleh?” tanyaku, dia mengangguk
Aku hanya menunduk dan pergi. Coba tebak, aku sudah berpacaran dengan member terkeren di SHINee setelah 3 kali bertemu dengannya, atau 4 ya? Yang jelas akupun tak bisa mempercayainya samapai sekarang. Kami hanya bertemu sekali seminggu di hari jumat, karena hanya hari itu dia tidak ada jadwal siang. Itupun bertemu di kelas seni, saat semua orang sudah pulang.
Yang kami lakukan hanya berbicang dan memandang taman, dia tidak mau di ajak duduk ditepi danau karena akan langsung dikerubutin teman-temannya, kami tidak bisa pergi kemanapun karena mata gadis-gadis dikampus yang selalu online dimanapun ada jejak minho.
 Bahkan dia hanya menelponku sekali seminggu dan itu adalah hari sebelum kami bertemu untuk memastikan. Aku bahkan dilarang menelponnya atau mengirim pesan padanya, dia bilang banyak yang akan mencoba membongkar hapenya. Dia benar-benar tertutup, atau ‘kami’ yang benar-benar tertutup. Bahkan saat aku tanya apakah member SHINee tahu kami pacaran pun ia menggeleng.
Hari ini ia akan syuting dream team didekat tempat kerjaku, aku ingin melihatnya, tapi jawabannya tetap sama. “tidak boleh”
Aku hanya tertunduk lesu dan pergi. Aku merasa ini terlalu menyebalkan.
***
''sudah tidur?''
''hmm''
''lelaah yaa??''
''hmm...''
''hhhh... Baiklah, cepat tidur.. Sampai besok''
tiiitt....
Kututup telponku dengan malas, begini lagi..
Selalu seperti ini...
Sudah beberapa bulan ini minho sibuk dengan kegiatan SHINee di jepang, bahkan seharipun tak ada waktu kosong untuk beristirahat, dia jadi temperamen. Saat pulang ke seoul juga selalu marah saat aku salah bicara. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Sikapnya disetiap acara yang diikutinya dengan dihadapanku selalu berbeda, dia sudah jarang sekali tersenyum saat bertemu denganku. Hatiku sudah mulai hancur.
 “opseoyo...” aku tersentak mendengar jawabannya, aku sedang mendengarkan radio saat DJ menanyakan kekasih anggota SHINee, minho terdengar sangat yakin dan langsung menjawab tanpa berpikir. Semua bertepuk saat mendengar jawabannya. Tapi serpihan hatiku yang terakhir sudah hancur. Gomawo minho ssi.
***
Dia menelponku lagi, ck.. aku tak akan mau lagi mengangkatnya, untuk apa? Bahkan semua teman-temanku membencinya saat kuceritakan bagaimana kelakuannya pada kekasihnya, yah well.. aku tidak menyebutkan itu choi minho, aku hanya menceritakan sikap seorang cowok kepada ceweknya dan semua teman-teman wanitaku menganggap dia sudah kelewatan.
“hubungan tanpa diketahui orang lain? Apa itu tidak terlalu aneh? Bahkan teman-teman dekatnya juga tidak boleh tahu??” sora menatapku, aku mengangguk
“wah... itu aneh, bahkan kekasihnya (aku maksudnya) tidak boleh menelpon atau mengirim pesan??” Yeomi menatapku, aku mengangguk lagi
“ckck.. ini benar-benar mencurigakan, bahkan dia tidak pernah mencium atau bersikap mesra??” Myung eonni menatapku, aku menggeleng
“whooaaahhh... apa yang seperti itu bisa disebut berpacaran???” tanya je neul tidak percaya.
Aku baru sadar setelah mendengar pendapat mereka, sebenarnya apa artinya aku dimata choi minho itu. Yang pasti dia tidak mungkin benar-benar mencintaiku, tidak mungkin...!!!!
“ya..!!! shinji ssi..!!!” terdengar pintu menjeblak terbuka, aku tersentak kaget. Ku lihat minho berdiri dengan wajah kesal. “mwoya??” tanyaku datar kembali memandang keluar.
“kenapa tidak mengangkat telponku??!! Kenapa tidak membalas pesanku??!!! Apa kau gila??!!!” bentaknya kasar didepanku, menutupi pandangan mataku ke taman didepan sana. Aku menatapnya, benci. Tampaknya dia juga terkejut melihat ekspresi wajahku.
Aku berdiri menatap langsung kematanya, “ ya~ choi minho ssi... apa kau mencintaiku?” dia berkedip, tak menjawab. “apa kau menyukaiku?” tanyaku lagi, dia masih diam. Aku tersenyum, pahit. Ku tahan air mata yang sudah berbulan bulan aku tahan, “baiklah, handphone..” ucapku meminta handphonenya, dia masih mematung, ku ambil handphone dikantung celananya, ku hapus no hape ku dan kuserahkan lagi padanya. “mulai sekarang, aku akan menganggap tak pernah mengenalmu..” kataku melangkah pergi darinya.
“ige mwoya??!!!!” bentaknya lagi, aku menghentikan langkahku, “siapa yang menyuruhmu pergi??!!” tanyanya menarik tanganku, aku menepisnya.
“wae? Apa aku tidak boleh pergi? Apa aku harus selalu menuruti mu? Apa aku tak boleh melakukan apa yang ingin aku lakukan? Apa aku tidak boleh menelpon orang yang sudah memintaku menjadi pacarnya? Apa aku tidak boleh dianggap menjadi seorang kekasih?? Apa kau pikir aku ini hanya wanita bodoh..???!!! jawab akuuu...!!!!!!!” teriakku bersama dengan pecahnya air mata yang sudah coba kutahan, dia terlihat sangat kaget.
“kau tidak mencintaiku kan??? Kau juga tidak menyukaiku kan??? Bahkan kau tidak tahu apa-apa tentangku.. iya kan??? Choi minho ssi..!!!”
“geurae, kau juga tidak sepenuhnya salah... aku yang bodoh sudah mempercayaimu, mengharapkanmu, sampai aku tidak bisa berpikir dengan jernih...” kuusap air mataku.
“shinji ah~” dia menatapku
“aku lelah... mian...” kupaksakan kakiku melangkah pergi dari tempat itu, kuusap air mataku dengan keras, aku tidak akan menangis..!!
Selamat tinggal choi minho~~.
***

“내가 필요해” (FF)

Cast:
.Shin Ji Sang
.Choi MinHo
.Cho KyuHyun

:: Prolog
Kau tau rasanya punya pacar orang terkenal?? Sangaat bangga bukaan??
Tapi saat kau tau sifatnya.. Percayalaah.. Kau bahkan tidak akan menginginkan pernah mengenalnya...
Poor me!!

This time..
''sudah tidur?''
''hmm''
''lelaah yaa??''
''hmm...''
''hhhh... Baiklah, cepat tidur.. Sampai besok''
tiiitt....
Kututup telponku dengan malas, begini lagi..
Selalu seperti ini...
Hei? Kenapa?
Kau bingung ya? Oke..
Kenalkan, aku Shin ji sang saudara sepupu jauhnya shin sekyung.. Tentu kau tahu kan siapa shin sekyung??
Benar, aktris cantik dan juga kekasih sang lead vocal SHINee, kim jongHyun.
No body know me..
Tentu, aku kan bukan seorang aktris cantik atau slah seorang personil GB terkenal seperti SNSD.
Aku..
Hanya seorang yeoja yang menyukai satu namja..
Choi minho.

Whoaaaa~!!
Jangaan marah dulu,,,
kau mau aku melanjutkan kisahku tidak??
Oke, baiklah..
Dugaanmu benar, aku adalah kekasih (gelap) Choi minho,, karna bahkan member SHINee dan kakak sepupuku saja tidak tahu hubungan kami.
Perjumpaan kami cukup singkat, kami bertemu saat sekyung eonni memintaku mengantarnya bertemu JongHyun oppa..
Mereka membicarakan skandal yang ramai dibicarakan para Blingers dan Shawol. Tentu saja kabar hubungan mereka 'sedikit' membuat eonniku terganggu dan sedih.
Jadi kebetulan pula JongHyun oppa membawa minho dan key sebagai penasehat (emang bsa??)
Disitu pertama kali aku melihat wajah minho secara nyata. Tapi dia sama sekali tidak tersenyum, wajahnya tanpa emosi. Hanya key yang mengajakku ngobrol.
''dia selalu begitu?'' tanyaku pada key sambil melirik minho yang sedang menatap jendela dengan muram
''ah tidak,, dia hanya sedang merindukan appanya..'' jawab key menyodorkan kopi yang baru diseduh.
''geurae??'' tanyaku ragu
''tentu saja, dia hanya agak lelah, kau tahu? Kami semua agak lelah dengan semua kegiatan ini, dan mungkin dia stres dengan ujian masuk universitas. Ohh.. Aku saja sudah 5 kali demam mendadak karna stres'' ungkapnya dengan mimik wajah lucu.
''haha.. Benarkah..?? Tidak bisa membayangkan seorang key demam..'' sahutku menyeruput kopi ditanganku.
''hmm.. Benar, memang tidaak.. Ahhh minho~ah.. Wae??'' ucapannya terpotong saat minho datang menghampiri key dan memberi isyarat untuk segera pergi.
''aku bosan'' ucapnya dingin
''yaa~ Jjong blum menyelesaikan urusannya..'' bujuk key yang menunjuk Jonghyun dan saekyung yang masih sibuk berbincang.
Tapi minho tak peduli dan berjalan keluar, key hanya bisa menggeleng lemah.
''apa dia selalu tidak peduli?'' tanyaku menahan emosi
''entahlah, akhir-akhir ini dia aneh'' jawab key lesu
''aku mau bicara dengannya!'' ucapku bangkit dari kursi.
***

''mau kemana kau?'' ucapku ketus
''hm?'' dia berbalik tanpa ekspresi
''kutanya kau mau kmana??!!'' kataku kesal
minho menyipitkan matanya, kelihatannya mengerti dengan nada 'kesal'ku.
''apa urusanmu??''
''kau sebenarnya menghargai jjong oppa tidak sih?!''
''yaa..!! Kau tau apa soal jjong? Tidak usah sok ikut campur!!'' bentaknya didepan wajahku.
''yaa,,!! Aku memang tidak tahu! Memangnya kenapa kalau aku tidak tahu?? Setidaknya aku peduli pada mereka..!!'' semburku menantang
''kau pikir aku tidak peduli??!!''
''tidak!!'' balasku
''yaa..!!!'' teriaknya
''mwo??!!!''
kami hampir saja saling mencakar kalau saja key tidak datang dan melerai kami.
Sejak itu aku tidak pernah mau ikut dengan sekyung bertemu dengan jongHyun oppa atau siapapun yang berhubungan dengan SHINee (kecuali key) aku sering bertukar pesan singkat dengan key.
Dia sepaham denganku. Oh ayolah.. kau tidak berpikir aku menyukai key kan??
***
Serangan para shawol semakin menjadi. Sekyung sering pulang kerumahku daripada pulang keapartementnya. Para shawol selalu menunggunya pulang setiap malam didepan gedung apartementnya. Jujur saja aku sangat simpati dengan keadaannya, sudah beberapa iklan dibatalkan dan pemotretannya terganggu karena ulah para shawol yang marah padanya.
Jonghyun oppa pun tak jauh beda, kudengar dari key kalau dia sangat mencemaskan saekyung. Bahkan kemarin ada shawol yang menjadi antis dan melemparnya dengan telur. Itu terdengar sangat buruk.
Tapi aku salut, baik saekyung atau jjong oppa tak pernah berpikir untuk berpisah atau menjaga jarak, jjong oppa bahkan sering menunggu saekyung dirumahku hanya untuk sekedar mengucapkan selamat malam. Mereka terlihat sangat bahagia saat bersama.
Hari ini hari jadi mereka yang pertama, sudah setahun. Wow.. bahkan aku tak bisa percaya sekarang semua shawol mendukung mereka, dan aku ikut menangis saat melihat dukungan yang sangat besar dari shawol Taiwan saat SHINee konser disana.
Saekyung dan jjong. Mereka memang ditakdirkan bersama. Bolehkah aku iri?? Ohoho.. tidak boleh!! Sekarang aku harus focus membantu lima namja keren yang sudah mulai mengobrak-abrik rumahku yang kecil ini.
“saekyung suka warna biru kah??” Tanya jjong oppa padaku sambil tetap sibuk membersihkan langit-langit rumahku yang.. well.. agak kotor.
“anii..!! itu warna kesukaan ku oppa.. eonni suka warna ungu cerah..” sahutku dari dapur, mencuci lusinan piring yang sudah lama aku biarkan dilemari kaca.
“mwo?? Aahhh.. aku salah lagi..” ucapnya terdengar kecewa
“aku beli warna pink hyung,, kan tidak jauh beda..” ucap taemin yang baru selesai memindahkan sofaku yang sudah minta diganti itu.
“ungu dan pink itu beda!! Dasar phabo..!!” celetuk key sambil menjitak kepala saengnya itu dengan sayang.
“yaaa…..!!! rambutku..” elak taemin menghindari key
“biar aku yang beli” deg! Aku sangat mengenal suara dingin itu, ingin sekali rasanya minta maaf atas kejadian waktu itu. Tapi melihat sikapnya yang seperti tidak ada apa-apa, rasanya malas meminta maaf.
“tolong ya minho-ahh..” ucap jjong menepuk pundak minho dan kembali sibuk menghias langit-langit.
“hmm” gumamnya, dan beberapa detik kemudian terdengar suara pintu ditutup.
Hhuuuuppptt… perasaanku lebih ringan saat dia jauh dariku.
Braaaakkkkkkkkkk…..
“hhoiiiii…. Aku bawa pizza..!!!” teriak onew yang baru saja tiba. Dia ada tambahan siaran dengan Leeteuk di sukira. Jadi datang telat.
“whooaaaaaaa~ aku sukkaaaa pizza…!!!” sambut taemin merebut pizza yang dibawa hyungnya itu dengan semangat.
“aku benci pizza..” ucap jjong dingin, tapi tak ada satupun yang mendengarnya. Mereka sibuk mengunyah makanan itali itu.
“oppa~ aku buatkan sup kimchi..” kataku menyodorkan mangkuk yang berisi sup panas kepadanya. “ohh gomawo ji-ahh.. kau sangat tahu kesukaanku” katanya menerima mangkuk dariku.
Aku hanya tersenyum dan ikut bergabung dengan rombongan ‘pemakan’ pizza itu.
“yaaa…!!!! Sisakan untukku….!!!!!”
***
Saekyung pulang hampir tengah malam, jadwalnya akhir-akhir ini memang agak ekstrim, jjong oppa saja sudah berulang kali mengeluh padaku karena saekyung yang terlihat kurus. Makanya ia mempersiapkan kejutan ini untuk saekyung.
Malam ini rumahku benar-benar ramai, tingkah taemin, key dan onew benar-benar tak bisa membuatku berhenti tertawa. Jjong oppa dan saekyung ada di taman belakang. Aku tak perlu menjelaskan sedang apa mereka, tentu kau sudah tahu kan. :”)
“yaa…!! Aku ssudah menghiasnya selama dua jam..!! jangan sentuh itu..!!! yaaa…!!!! Taemin-ah…!!!!” teriak key panic mencegah taemin yang ‘akan’ menyentuh hiasan meja yang dibuatnya, dan pasrah saat melihat onew menghancurkan hampir seluruh meja yang ada ‘ayam’nya.
“hehe.. sorry key..” katanya nyengir –tak bersalah–
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Sudah tak sanggup lagi tertawa, perutku sangat sakit sekarang. “aku ambilkan dessert nya yaa..” ucapku melangkah kedapur mengambil buah-buahan yang sudah aku kupas tadi.
Tak sengaja ku lihat minho tertawa, oh my god..!!! baru kali ini aku melihat minho tertawa manis seperti itu, tapi kemudian dia sadar aku memperhatikannya dan menatapku dengan tatapan dinginnya. Ugh..!! aku ketahuan! Langsung saja aku balik kanan dan berjalan kedapur dengan agak terburu-buru.
Shinji-ahh.. mana buahnyaaa…!!!!” teriak onew saat aku masih sibuk menyusun buah diatas piring. Pikiranku terganggu gara-gara melihat senyum minho tadi, senyum yang biasanya hanya kulihat difoto atau poster, sekarang aku bisa melihatnya secara langsung. Kau pasti tahu bagaimana rasanya.. ahh.. seperti mimpi. Dia sangat sangat tampan..!!!
“nuunaaaaaaa~ mana apel kuuuu…” panggil taemin masuk kedapur dimana aku sedaang sibuk memikirkan minho, oh ayolaahh.. aku bukan orang munafik yang akan bersikap seperti tak ada apa-apa setelah melihat senyum seorang minho.
“yaa..!! nunaa.. kau melamun??”
Astaga! Aku hampir saja menjatuhkan gelas.
“oo?!! Yaa~!! Taemin-ah.. kau mau mati??!!!” ucapku yang masih kaget, tanganku sampai gemetaran memegang gelas yang hampir jatuh tadi.
“aa~ miann.. hehe” ucapnya sambil nyomot apel yang dicarinya tadi.
“gwenchana~..” ucapku mengajak taemin masuk ke ruang tengah lagi. Sae kyung unni datang agak telat, tapi senyum dari wajahnya menandakan dia bahagia dengan kejutan yang diberikan kekasihnya bersama member SHINee lainnya. Aku bahkan tertidur karena terlalu lelah sampai tak sadar saat mereka pamit pulang.
***
“ji-ah.. bisa tolong aku kembalikan ini?” tanya saekyung unni saat aku hendak berangkat kekampus
“igo mwoya?” tanyaku masih berusaha mengikat tali sepatu sambil mengunyah sandwich buatannya.
“handphone minho..”
Uhuukk...
Sandwich yang sudah setengah tertelan terpaksa berhamburan keluar, aku mengatur napas agak tidak tersedak. “mwo???”
Saekyung unni langsung menjelaskan sebelum aku mulai protes, “kemarin minho terlalu lelah sampai melupakan handphonenya, taemin bahkan meninggalkan sweaternya.. kau mau kan mengembalikannya... (dia menunjukkan wajah berkaca-kaca) lagipula kalian kan satu kampus..”
Belum sempat aku menolak permintaannya, dia sudah meletakkan handphone blackberry itu di tasku dan pergi kedapur dengan pura-pura sibuk memasak. Ckck..
***
“ah.. permisi.. kau tahu dimana kelas yang di ambil choi minho?” tanyaku pada segerombol mahasiswa yang sedang duduk. Mereka menatapku sinis.
“molla~~~” ucap salah seorang gadis yang tampak seperti ‘ketua’ mereka. “ah~~ araseo..” ucapku segera pergi, aku tidak nyaman dengan aura disekitar mereka.
Baru beberapa langkah aku menghindari gerombolan gadis-gadis itu, terlihat ujung rambut choi minho yang menyembul diantara kepala-kepala namja lain. Segera saja aku hampiri tanpa basa-basi.
“minho-ssi ini handphone mu..” ucapku singkat padat dan jelas kepadanya seraya meletakkan handphone itu ditangannya dan segera pergi dari situ, bahkan malas untuk melihat wajahnya saat itu.
“ohh~ sebentarrr..” aku sempat mendengarnya bicara, tapi aku tidak ingin berbalik lagi. Yang penting sudah ku kembalikan, batinku.
Selepas mengembalikan handphone minho tadi aku langsung menuju kelasku di fakultas seni, haha.. siapa yang tahu kalu aku menyukai dunia seni juga. Tapi terlalu pengecut untuk melangkahkan kaki kesana.
Kelas ku selesai lebih cepat dari biasanya, semua orang sudah berhamburan keluar keluar kelas, akhirnya tinggal aku sendiri disini. Saat seperti ini yang paling menyenangkan bagiku, pemandangan didalam maupun diluar kelas ini tak tertandingi, dinding kaca yang langsung memperlihatkan taman kampus beserta danau kecil ditengahnya, grand piano dipojok ruangan yang berwarna putih, apalagi sambil mendengarkan musik seperti ini rasanya tak ingin pulang lagi.
“oh.. annyeong..”
Tiba-tiba ada seorang pria masuk keruangan tempat ku menikmati dunia (?), rasanya menyebalkan sedang syahdu begini diganggu, tapi saat aku menoleh justru aku yang ingin cepat pergi dari sini.
“minho.. ssi?” ucapku kaku, dia tersenyum dan berjalan kearahku, ditariknya kursi dan duduk tepat dihadapanku. Aku membeku.
“shinji ssi?” aku mengangguk
“igo,, gomawo..” ucapnya memperlihatkan hapenya padaku dan tersenyum. Aku mengangguk lagi. Aku hanya bisa melihatnya saja, tanpa bisa berkata apa-apa. Wajahnya saat memandang taman di luar benar-benar membiusku, terlalu sempurna, seperti malaikat. Aku hampir lupa bernapas, bahkan.
Aku tersentak hebat, dia melihatku, oh my god... aku benar-benar mati kaku sekarang.
“kau, kenapa selalu sendirian disini?” tanyanya, masih menatapku. Perlu waktu hampir 30 detik untukku mencerna kata-katanya, akhirnya aku bicara.
“memangnya kenapa?!” jawabku agak keras, aduuhhh.. seharusnya tak perlu seperti itu, dia pasti merasa tersinggung sekarang. Tapi ternyata dia tersenyum lagi, “mulai besok, sisakan tempat untukku ya..” katanya sambil melangkah keluar.
“mwo???” kata terakhirku menggema keseluruh ruangan.
***