Selasa, 12 April 2011

KIMCHI (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia)

DIUMUMKANNYA harga tiket pergelaran KIMCHI (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) oleh W production di laman Facebook dan Twitter-nya ternyata menimbulkan perdebatan. Tak sedikit penggemar musik Korea, khususnya Super Junior (SuJu), yang merasa keberatan dengan harga tiket yang dianggap terlalu mahal.

"Mahal banget harga tiketnya, kasihan pelajar kelas 3 SMA. Pejualan tiket 17 April, besoknya Ujian Nasional (UN). Sehabis UN aja jualnya. Ini kan konser festival Korea untuk Indonesia, enggak bisa diturunin ya harganya?" komentar salah satu penggemar boyband beranggotakan 10 pria itu, Puji Estianingsih, yang ditulis dalam laman Facebook W Production.

Banyak pula yang berpendapat harga tiket terlampau mahal karena ini bukanlah konser tunggal Super Junior, melainkan festival musik gabungan beberapa artis Korea. Tak pelak para penggemar Suju (ELF) merasa keberatan dengan ini.

Banyak pula yang membandingkannya dengan konser SuJu sebelumya pada Maret lalu di Malaysia dengan harga yang lebih murah. Harga termahalnya diketahui hanya Rp1,8 juta untuk penampilan penuh SuJu di Kuala Lumpur selama 4 jam penuh. Harga itu dinilai terlalu mahal bila dibandingkan dengan penampilan SuJu di perhelatan KIMCHI, Juni nanti, yang dikabarkan hanya akan menampilkan sekitar 4 lagu.

"Kemahalan, memang banyak artisnya, tapi mereka masih artis baru. Mending nonton Super Show 4 di Singapura," kata Tiwi, 25, salah satu penggemar Super Junior yang telah menonton beberapa pertunjukan SuJu di luar Tanah Air. Hingga kini W Production belum memberikan tanggapan atas hal tersebut. (Pri/OL-06) credit. mediaindonesia

berikut harga tiket nya

Ticket Price:
VIP : Rp.2.500.000.,00 ~ Numbered seating.
Festival 1: Rp.2.000.000.,00 ~ Free standing.
Festival 2: Rp.1.500.000.,00 ~ Free standing.
Tribune 1: Rp.2.000.000,00 ~ Free seating.
Tribune 2: Rp.550.000,00 ~ Free seating.

Date :04 Juni · 18:00 – 20:00
Places :Istora Senayan

W Productions member get extra 5% discount for VIP and 10% discount for other classes.

For more info and ticket booking please call W Productions at (021) 6231 1377.

*Public sale on 17 April 2011 in Blitz Atrium West Mall lvl.8, Grand Indonesia Shopping Town, start at 10am.



source: @WProductions08


W PRODUCTIONS PROUDLY PRESENTS:
~ KIMCHI (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) 2011 ~
Menjawab permintaan dari fans Indonesia, W Production dengan bangga akan menampilkan first Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia, atau KIMCHI.
Ini adalah acara pertama di bidang ini yang akan diisi oleh 5 artis korea yang hebat dalam 1 panggung. Kita akan memilih penampil yang terbaik untuk kesenangan kalian, mulai dari Boy Bang, Girl Band sampai penyanyi solo.
Untuk penampil utama adalah, kita dengan bangga akan menampilkan SUPER JUNIOR, boy band yang multitalenta yang memiliki banyak kemenangan dan memiliki ribuan kasih dari fans Indonesia.
Setelah di daftar, kita akan mempunyai member yang populer dari SS501, Park Jung Min, yang sekarang sedang bersinar dengan kegiatan solonya. Selanjutnya, kita juga menampilkan The Boss, yang akan menunjukkan perubahan yang dinamis. Kita juga tidak lupa menambahkan Gorl Band, oleh karena itu kita membawa Girl’s Day, salah satu girl band terbaik di Korea. Penutup daftar, tapi ini bukan yang etrakhir, kita menampilkan X-5, yang masih baru, misterius, dan Korean boy band yang masih fresh.
Siapkan dirimu untuk Korean Music Concert yang bagus. Brace milikmu akan meledak dengan Idolmu dan enjoy dengan ini disetiap waktu. Persiapkan untuk KIMCHI 2011.

Harga Tiket :
VIP : Rp.2.500.000.,00 ~ Ada nomor duduk.
Festival 1: Rp.2.000.000.,00 ~ Free Duduk .
Festival 2: Rp.1.500.000.,00 ~Free Duduk .
Tribune 1: Rp.2.000.000,00 ~ Free Duduk .
Tribune 2: Rp.550.000,00 ~ Free Duduk ..
untuk member W Production akan mendapat diskon 5 % untuk VIP dan 10 % untuk kelas selain VIP.
Untuk keterangan lebih lanjut dan pemesanan tiket harap telepon W Production di (021) 6231 1377.
*Dijual mulai 17 April 2011 di Blitz Atrium West Mall lantai 8, Grand Indonesia Shopping Town, dari jam 10.00 WIB.
*Peta duduknya ada di foto.
Cre : W Production Official
Ind Trans : Tsatsasoeun@asianfansclub
__________________________________________________________

TRANSLATION

W PRODUCTIONS PROUDLY PRESENTS:

~ KIMCHI (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) 2011 ~

Responding to requests from fans of Indonesia, W Productions proudly displays the first Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia, or kimchi.
This is the first event in this field will be filled by 5 great Korean artist in 1 stage. We will select the best performers for your enjoyment, ranging from Bang Boy, Girl Band to solo singers.


For the main viewer is, we will proudly display the SUPER JUNIOR, a multitalented boy band that has a lot of victories and has thousands of fans love Indonesia.
Once on the list, we will have a popular member of SS501, Park Jung Min, who was now shining with his solo activities. Furthermore, we also featuring The Boss, which will show changes that dynamic. We also do not forget to add Gorl Band, therefore, we bring the Girl's Day, one of the best girl band in Korea. Closing the list, but this is not a etrakhir, we display the X-5, which is still new, mysterious, and Korean boy band that is still fresh.


Prepare yourself for a good Korean Music Concert. Brace yours will explode with Idolmu and enjoy with this every time. Prepare for kimchi 2011.

Ticket Prices:
VIP: Rp.2.500.000., 00 ~ There are a number sat.
Festival 1: 2,000,000., 00 ~ Free Seating.
Festival 2: Rp.1.500.000., 00 ~ Free Seating.
Tribune 1: 2,000,000, 00 ~ Free Seating.
Tribune 2: Rp.550.000, 00 ~ Free Sit ..
to member W Productions will receive a discount of 5% for VIP and 10% for the class other than VIP.

For more information and ticket reservations please telephone W Productions at (021) 6231 1377.

* sale starting 17 April 2011 at Blitz Atrium Mall West 8th floor, Grand Indonesia Shopping Town, from 10:00 pm.
* Map seat in the photo.
Cre: W Productions Official

Jumat, 18 Maret 2011

Makna Nama Julukan Member Super Junior

1. Leeteuk : Leader dari super junior ini punya julukan “ Angel Without Wings “ kenapa ?? karena menurut adik adiknya, Oppa adalah sosok yang mempunyai hati seperti malaikat. Matanya yang berkilau mengisyaratkan cinta ke adik adiknya tak membuahkan hasil seperti air susu di balas dengan air tuba. Leader yang di juluki “ Old Idol “ ini selalu ngasih cara kelembutan buat ngatasin ke-12 anak buahnya . mungkin karena metode ini salah, member Super Junior lain malah gak takut sama leadernya sendiri.
2. Heechul : Si cowok cantik ini biasa di juluki “ cinderella’s man “. Karena tidak seperti layaknya cowok normal lainnya, Oppa mempunyai wajah yang cantik, body yang bagus dan tangan yang indah. Si “ beautiful hand “ ini sempat diminta sebagai icon produk wanita yang menonjolkan keindahan tangannya yang ramping dan putih.
3. Hankyung : Satu satunya member Super Junior yang berasal dari china ini punya julukan “ Chinese F4 “. Julukan itu diberikan karena dia sempat ditawari untuk bermain di kotba namja cina sebagai salah satu anggota F4. mungkin karena kegantengan cowok ini masuk kriteria yang cocok jadi anggota F4 kali ya ?? tapi sayangnya Hankyung menolak tawaran itu. Oppa lebih memilih fokus pada promo album Super Junior sorry sorry.
4. Yesung : Pemilik 1001 ekspresi wajah ini di juluki “ Artist vocal chord “ alasannya, Oppa memiliki pengucapan atau artikulasi yang baik saat bernyanyi. Hal ini karna sinkron dengan sifatnya yang talkactive atau bisa dibilang cerewet. Oppa juga salah satu member Super Junior yang paling patut dikasihani, sebab Oppa selalu dijadikan bahan ejekan oleh member Super Junior lainnya karena sering bersikap aneh.
5. Kangin : Kangin dinobatkan oleh member Super Junior lainnya sebagai “ first choise for a husband “ soalnya di mata member – member Super Junior yang lain, Sungmin merupakan orang yang tegas, baik, terkadang kasar, dan sangat cocok menjadi seorang suami atau ayah.
6. Sungmin : “ lean sungmin “ atau si “ cuteness “ adalah salah satu member Super Junior paling cute dan suka banget sama warna pink. Tidak heran kalau Oppa dinobatkan sebagai “ prince pink “. Semua barang barang yang Oppa miliki dominan dengan warna pink. Bahkan Oppa pernah nekat mengecat rambutnya dengan warna pink. Ia juga dijuluki “sweet pumpkin” memang karna mukanya sangat imut, apalagi waktu tersenyum.
7. Eunhyuk : Si “ machine dance “ ini memang jago ngedance. Tapi ternyata Oppa punya kebiasaan yang bikin member super Junior lain seneng. Apa itu ? Oppa selalu membersihkan dan membereskan isi dorm. Alhasil ke-12 member Super Junior lainnya bisa leha leha sehabis manggung dan gak perlu mikir dorm yang kayak kapal pecah.
8. Donghae : Donghae atau “ fish “ ini adalah anggota Super Junior yang punya speed paling cepet dan berhati besar. Ia sangat peduli dengan member SuJu lainnya. Donghae slalu ongat kapan ultah para Hyungnya.Oppa juga member Super Junior yang perhatian dengan orang tuanya karna Oppa paling rajin menelpon orang tuanya ketimbang member lainnya. Dan setiap perform Oppa tidak pernah nanggung2 nebarin pesonanya ke seluruh penonton.
9. Siwon : Pewaris tunggal jaringan alfamart sekorea ini biasa dipanggil “horse“ oleh member Super Junior lain. Karna larinya sangat cepat dan tangguh, seperti kuda. Hobby fitnessnya ini membuat postur tubuhnya menjadi keren. Sampai2 siwon jadi model cover majalah men’s health. Oppa adalah member Super Junior yang paling jago dibidang olahraga. Ibarat kuda Oppa cowok yang sangat gagah saat melakukan apapun.
10. Ryeowook : “ king of wives ryeowook “ yup itulah julukannya. Cowok ini sangatlah feminim. Tidak seperti member Super Junior lainnya, Oppa sangat suka memasak dan peduli dengan member lain. Saat mereka lelah, Oppa juga sangat rajin menyiapkan makanan untuk mereka. Bahkan Oppa sampai rela nyari resep masakan yang diminta member SuJu lewat internet .
11. Kibum : Cowok yang paling sering absen dari aksi Super Junior ini bisa disebut “ smile killer “ menurut para fansnya, setiap Oppa tersenyum, Oppa mempunyai pesona tersendiri. Berarti harus hati hati sama senyumnya dong ?? kibum ini juga seorang aktor handal selain Heechul. Misalnya untuk adegan nangis, Oppa tidak butuh waktu lebih dari semenit buat keluarin air mata.
12. Kyuhyun : “ magnae kyuhyun “ adik paling kecil dari member Super Junior lainnya ini memang paling jago niru kebiasaan yang dilakukan para hyungnya. Hal ini yang bikin kangen para hyung saat Oppa harus tinggal beberapa bulan di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan yang parah bersama Leeteuk, Shindong, dan Eunhyuk.
Kok cuma 12?????
*bingung sendiri*
@Cre : GPJY

MinHo SHINee memberi hadiah Untuk Koreografernya^^


Minho memberikan hadiah lucu untuk koreografer nya.

Koreografer SHINee Shin Jaewon mengupload gambar di twitternya dan menunjukan hadiah yang diberikan oleh Minho. Minho memberinya sepasang sepatu kets yang berasal dari merek terkenal dan menyertakan kata ‘Minho’ disepatu itu.

Shin Jaewon berterima kasih pada Minho dan Minho juga menyebutkan sepatu itu sebagai sepatu ‘buatan sendiri’, Shin Jaewon juga mengatakan ia benar-benar menyukai warna dan sayang untuk memakainya.

Aigooo~~~
so sweett..!!!!

VIA:GKP
INDTRANS:ELALOLIPOP@ASIANFANSCLUB

Super Junior M (Too Perfect)

SUPER JUNIOR M – TOO PERFECT (korean version)


jami deun gaseumi kkaeeonago itji
haessari haneul arae sarajil ttae
barami sesang soge eobseojil ttae
badaga moraecheoreom mallagal ttae
geuttae nan i sarangeul pogihalge
geunyeoneun wanbyeokhan sinui pijomul
geunyeoneun wanjeonhan namanui pisache
Oh! 太完美(taewanmi) nae simjang jonjaereul Oh!
My Lady naege ilkkaeuji Woo Wo u O
geunyeoui nunsseopgwa du nun, geunyeoui yeop seongwa mokseon,
geunyeoui geu areumdaum Oh! 太完美(taewanmi)
jami deun gaseumi tto kkaeeonal ttae
Just for you neoreul wihae nuneul tteul ttae
eoreumjocha bulkkochi ireonal ttae
geuttae nan i sarange ttwieodeune..
geunyeoneun wanbyeokhan sinui pijomul
geunyeoneun wanjeonhan namanui pisache
Oh! 太完美(taewanmi) nae simjang jonjaereul Oh!
My Lady naege ilkkaeuji Woo Wo u O
geunyeoui nunsseopgwa du nun, geunyeoui yeop seongwa mokseon,
geunyeoui geu areumdaum Oh! 太完美(taewanmi)
wanjeonhan ne areumdaun geu moseub…
neon sarami aniljido molla…
kkeut eobsi nareul jugo sipji
kkeut eobsi sarang hago sipji
kkeut eobsi nareul jugo sipji
kkeut eobsi sarang hago sipji
geunyeowa geunyeowa geunyeowa geunyeowa
geunyeoneun wanbyeokhan sinui pijomul
geunyeoneun wanjeonhan namanui pisache
Oh! 太完美(taewanmi) nae simjang jonjaereul Oh!
My Lady naege ilkkaeuji Woo Wo u O
geunyeoui nunsseopgwa du nun, geunyeoui yeop seongwa mokseon,
geunyeoui geu areumdaum Oh! 太完美(taewanmi)
Rap>
Bounce to the music let your feet go round,
to the floor and I’ma break it down
let me in let me show you all my bling bling
and all my kicks kicks baby dance with me
Boom Boom Boom Can I get another Clap Clap Clap Lets go,
Shake your body move your body pick your feet up
I’ma move to the groove baby I’ma go all out
neomu areumdawo neomu areumdawo
neomu areumdawo areumdawo neomu areumdawo
gyesok dugeungeoryeo gyesok dugeungeoryeo
gyesok dugeungeoryeo dugeungeoryeo gyesok dugeungeoryeo

Chinnese Version^^
Ta mi zhu wo shi xian
Ta mi zhu wo shi xian
(Siwon):
Zai ai qing li de bao zang bei wo fa xian
Ni jiu shi wo xun zhao de xi shi bao bei
(Kyuhyun):
Ni jiu bu duan de zai jiao fan wo shi jie
Lian bing kuai yu jian ni dou ran qi huo yan
Tai guo xin ji bu dui,yong li ai hui sui
Tai guo huan man bu dui, wo sui zhe jin huo tui
(Donghae):
Oh Tai wan mei, ni yan li wo chu xian
Oh bu rang shui, ti wo zai ni shen bian
woo~

(Zhoumi):
Ni de mei yan, ni de ce lian ,ni de jing jian ,ni de wu mei
Ni de yi qie,cong tou dao wei , wo yi lun xian
(Kyuhyun):
Wo de xin bian cheng le kou dai de yin yue
Just for you, bu ting de gei bu ting de gei
(Ryeowook):
Zhe yang zi ai ni dao di shi dui bu dui
Wo yi bian mi huo yi bian geng jia mi lian
Tai guo xin ji bu dui,yong li ai hui sui
Tai guo huan man bu dui, wo sui zhe jin huo tui
(Kyuhyun):
Oh Tai wan mei, ni yan li wo chu xian
Oh bu rang shui, ti wo zai ni shen bian ,woo~
Henry:
Ni de mei yan, ni de ce lian ,ni de jing jian ,ni de wu mei
Ni de yi qie,cong tou dao wei , wo yi lun xian
(Kyuhyun):
Oh tai wan mei
Oh bu rang shui
Oh tai wan mei
(Zhoumi):
mei yi ci jin ye shen mai duo jiu dou ji de ta
zai wo quan shen kuang diao bu yao jian~
Yi zhi tiao yi zhi tiao xiang jian ni
Yi zhi tiao yi zhi tiao xi huan ni
Yi zhi tiao yi zhi tiao dou shi ni
Yi zhi tiao yi zhi tiao wo ai ni
Yi zhi tiao*4
Tai guo xin ji bu dui,yong li ai hui sui
Tai guo huan man bu dui, wo sui zhe jin huo tui
(Siwon):
Oh Tai wan mei, ni yan li wo chu xian
Oh bu rang shui, ti wo zai ni shen bian ,woo~
(Kyuhyun):
Ni de mei yan, ni de ce lian ,ni de jing jian ,ni de wu mei
Ni de yi qie,cong tou dao wei , wo yi lun xian
Eunhyuk’s rap:
Bob the music let it hit go down
To the floor let we break it down
Let me ill
Let me show you all the bling bling
Oh let me kiss kiss baby dance with me
Henry’s Rap:
Boom Boom Boom when i get another
Clap Clap Clap let’s go
Shake your body Move your body Kick your feet up
Imma move to the groove Baby imma go down
(Donghae):
yao bu ting xiang wo
yao bu ting ai wo
yao bu ting xiang wo
yao bu ting ta xiang wo
yao bu ting ta ai wo

Selasa, 15 Maret 2011

Fungsi Media Pembelajaran..

Fungsi Media Pembelajaran...
Dalam tahun-tahun belakangan ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam pembelajaran ke arah paradigma konstruktivisme. Menurut pandangan ini bahwa pengetahuan tidak begitu saja bisa ditransfer oleh guru ke pikiran siswa, tetapi pengetahuan tersebut dikonstruksi di dalam pikiran siswa itu sendiri. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Dalam kondisi seperti ini, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa atau pebelajar sebaiknya secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar, berupa lingkungan. Lingkungan yang dimaksud (menurut Arsyad, 2002) adalah guru itu sendiri, siswa lain, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan atau materi ajar (berupa buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber belajar serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar, termasuk alam sekitar).
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa/pebelajar atau mungkin juga guru). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan (Criticos, 1996). Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan. Kegagalan ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan), hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan), dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar (Sadiman, dkk., 1990).
Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi ajar) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif (Gagne, 1985) dan efisien.
Perkembangan ilmu dan teknologi semakin mendorong usaha-usaha ke arah pembaharuan dalam memanfaatkan hasil-hasil teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam melaksanakan tugasnya, guru (pengajar) diharapkan dapat menggunakan alat atau bahan pendukung proses pembelajaran, dari alat yang sederhana sampai alat yang canggih (sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman). Bahkan mungkin lebih dari itu, guru diharapkan mampu mengembangkan keterampilan membuat media pembelajarannya sendiri. Oleh karena itu, guru (pengajar) harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran, yang meliputi (Hamalik, 1994): (i) media sebagai alat komunikasi agar lebih mengefektifkan proses belajar mengajar; (ii) fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan; (iii) hubugan antara metode mengajar dengan media yang digunakan; (iv) nilai atau manfaat media dalam pengajaran; (v) pemilihan dan penggunaan media pembelajaran; (vi) berbagai jenis alat dan teknik media pembelajaran; dan (vii) usaha inovasi dalam pengadaan media pembelajaran.
Berdasarkan deskripsi di atas, maka media adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, terutama untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, lebih jauh perlu dibahas tentang arti, posisi, fungsi, klasifikasi, dan karakteristik beberapa jenis media, untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman sebelum menggunakan atau mungkin memproduksi media pembelajaran.
• ARTI, POSISI DAN FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Pengertian Media Pembelajaran
Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’ (Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990). Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat (hardware). Sedangkan menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media. Pengertian ini sejalan dengan batasan yang disampaikan oleh Gagne (1985), yang menyatakan bahwa media merupakan berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.
Banyak batasan tentang media, Association of Education and Communication Technology (AECT) memberikan pengertian tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi. Dalam hal ini terkandung pengertian sebagai medium (Gagne, et al., 1988) atau mediator, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar -siswa dan isi pelajaran. Sebagai mediator, dapat pula mencerminkan suatu pengertian bahwa dalam setiap sistem pengajaran, mulai dari guru sampai kepada peralatan yang paling canggih dapat disebut sebagai media. Heinich, et.al., (1993) memberikan istilah medium, yang memiliki pengertian yang sejalan dengan batasan di atas yaitu sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima.
Dalam dunia pendidikan, sering kali istilah alat bantu atau media komunikasi digunakan secara bergantian atau sebagai pengganti istilah media pendidikan (pembelajaran). Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa dengan penggunaan alat bantu berupa media komunikasi, hubungan komunikasi akan dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal. Batasan media seperti ini juga dikemukakan oleh Reiser dan Gagne (dalam Criticos, 1996; Gagne, et al., 1988), yang secara implisit menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dalam pengertian ini, buku/modul, tape recorder, kaset, video recorder, camera video, televisi, radio, film, slide, foto, gambar, dan komputer adalah merupakan media pembelajaran. Menurut National Education Association -NEA (dalam Sadiman, dkk., 1990), media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik yang tercetak maupun audio visual beserta peralatannya.
Berdasarkan batasan-batasan mengenai media seperti tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk meyampaikan isi materi ajar dari sumber belajar ke pebelajar (individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa sehingga proses belajar (di dalam/di luar kelas) menjadi lebih efektif.
Posisi Media Pembelajaran
Bruner (1966) mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok. Dalam tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam proses belajar mengajar sebaiknya diusahakan agar terjadi variasi aktivitas yang melibatkan semua alat indera pebelajar. Semakin banyak alat indera yang terlibat untuk menerima dan mengolah informasi (isi pelajaran), semakin besar kemungkinan isi pelajaran tersebut dapat dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan pebelajar. Jadi agar pesan-pesan dalam materi yang disajikan dapat diterima dengan mudah (atau pembelajaran berhasil dengan baik), maka pengajar harus berupaya menampilkan stimulus yang dapat diproses dengan berbagai indera pebelajar. Pengertian stimulus dalam hal ini adalah suatu “perantara” yang menjembatani antara penerima pesan (pebelajar) dan sumber pesan (pengajar) agar terjadi komunikasi yang efektif.
Media pembelajaran merupakan suatu perantara seperti apa yang dimaksud pada pernyataan di atas. Dalam kondisi ini, media yang digunakan memiliki posisi sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran, yaitu alat bantu mengajar bagi guru (teaching aids). Misalnya alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual atau verbal. Sebagai alat bantu dalam mengajar, media diharapkan dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar, mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Sehingga alat bantu yang banyak dan sering digunakan adalah alat bantu visual, seperti gambar, model, objek tertentu, dan alat-alat visual lainnya. Oleh karena dianggap sebagai alat bantu, guru atau orang yang membuat media tersebut kurang memperhatikan aspek disainnya, pengembangan pembelajarannya, dan evaluasinya.
Dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang, misalnya dalam teknologi komunikasi dan informasi pada saat ini, media pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses belajar dan bukan semata-mata sebagai alat bantu. Media pembelajaran memainkan peran yang cukup penting untuk mewujudkan kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam posisi seperti ini, penggunaan media pembelajaran dikaitkan dengan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media, yang mungkin tidak mampu dilakukan oleh guru (atau guru melakukannya kurang efisien). Dengan kehadiran media pembelajaran maka posisi guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator. Bahkan pada saat ini media telah diyakini memiliki posisi sebagai sumber belajar yang menyangkut keseluruhan lingkungan di sekitar pebelajar.
Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (kongkret) berdasarkan kenyataan yang ada di lingkungan hidupnya, kemudian melalui benda-benda tiruan, dan selanjutnya sampai kepada lambang-lambang verbal (abstrak). Untuk kondisi seperti inilah kehadiran media pembelajaran sangat bermanfaat. Dalam posisinya yang sedemikian rupa, media akan dapat merangsang keterlibatan beberapa alat indera. Di samping itu, memberikan solusi untuk memecahkan persoalan berdasarkan tingkat keabstrakan pengalaman yang dihadapi pebelajar. Kenyataan ini didukung oleh landasan teori penggunaan media yang dikemukakan oleh Edgar Dale, yaitu teori Kerucut Pengalaman Dale (Dale’s Cone of Experience) Teori ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner.
Pengalaman Abstrak (Abstract)
Lambang
Verbal


Lambang Visual



Rekaman Radio,
Gambar Diam
Pegalaman piktorial (Iconic)
Gambar Hidup


Televisi



Pameran


Karya Wisata


Demonstrasi


Dramatisasi

Benda Tiruan/Pengamatan


Pengalaman Langsung
Enactive
(Pengalaman Kongkret)
Gambar 1. Kerucut Pegalaman Edgar Dale
Fungsi Media Pembelajaran
Efektivitas proses belajar mengajar (pembelajaran) sangat dipengaruhi oleh faktor metode dan media pembelajaran yang digunakan. Keduanya saling berkaitan, di mana pemilihan metode tertentu akan berpengaruh terhadap jenis media yang akan digunakan. Dalam arti bahwa harus ada kesesuaian di antara keduanya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Walaupun ada hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan media, seperti: konteks pembelajaran, karakteristik pebelajar, dan tugas atau respon yang diharapkan dari pebelajar (Arsyad, 2002). Sedangkan menurut Criticos (1996), tujuan pembelajaran, hasil belajar, isi materi ajar, rangkaian dan strategi pembelajaran adalah kriteria untuk seleksi dan produksi media. Dengan demikian, penataan pembelajaran (iklim, kondisi, dan lingkungan belajar) yang dilakukan oleh seorang pengajar dipengaruhi oleh peran media yang digunakan.
Pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, meningkatkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan berpengaruh secara psikologis kepada siswa (Hamalik, 1986). Selanjutnya diungkapkan bahwa penggunaan media pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian informasi (pesan dan isi pelajaran) pada saat itu. Kehadiran media dalam pembelajaran juga dikatakan dapat membantu peningkatan pemahaman siswa, penyajian data/informasi lebih menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Jadi dalam hal ini dikatakan bahwa fungsi media adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar.
Sadiman, dkk (1990) menyampaikan fungsi media (media pendidikan) secara umum, adalah sebagai berikut: (i) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual; (ii) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misal objek yang terlalu besar untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan gambar, slide, dsb., peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat film, video, fota atau film bingkai; (iii) meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar sendiri berdasarkan minat dan kemampuannya, dan mengatasi sikap pasif siswa; dan (iv) memberikan rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan persepsi siswa terhadap isi pelajaran.
Fungsi media, khususnya media visual juga dikemukakan oleh Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002) bahwa media tersebut memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Dalam fungsi atensi, media visual dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan” siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini gambar atau simbul visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian diungkapkan bahwa fungsi kognitif media visual melalui gambar atau lambang visual dapat mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan/informasi yang terkandung dalam gambar atau lambang visual tersebut. Fungsi kompensatoris media pembelajaran adalah memberikan konteks kepada siswa yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain bahwa media pembelajaran ini berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dalam bentuk teks (disampaikan secara verbal).
Dengan menggunakan istilah media pengajaran, Sudjana dan Rivai (1992) mengemukakan beberapa manfaat media dalam proses belajar siswa, yaitu: (i) dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa karena pengajaran akan lebih menarik perhatian mereka; (ii) makna bahan pengajaran akan menjadi lebih jelas sehingga dapat dipahami siswa dan memungkinkan terjadinya penguasaan serta pencapaian tujuan pengajaran; (iii) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata didasarkan atas komunikasi verbal melalui kata-kata; dan (iv) siswa lebih banyak melakukan aktivitas selama kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati, mendemonstrasikan, melakukan langsung, dan memerankan.
Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar yang belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pebelajar terhadap materi ajar.
• KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam dunia pendidikan (misalnya teori/konsep baru dan teknologi), media pendidikan (pembelajaran) terus mengalami perkembangan dan tampil dalam berbagai jenis dan format, dengan masing-masing ciri dan kemampuannya sendiri. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk melakukan klasifikasi atau pengelompokan media, yang mengarah kepada pembuatan taksonomi media pendidikan/pembelajaran.
Usaha-usaha ke arah taksonomi media tersebut telah dilakukan oleh beberapa ahli. Rudy Bretz, mengklasifikasikan media berdasarkan unsur pokoknya yaitu suara, visual (berupa gambar, garis, dan simbol), dan gerak. Di samping itu juga, Bretz membedakan antara media siar (telecommunication) dan media rekam (recording). Dengan demikian, media menurut taksonomi Bretz dikelompokkan menjasi 8 kategori: 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3) media audio semi gerak, 4) media visual gerak, 5) media visual diam, 6) media semi gerak, 7) media audio, dan 8) media cetak.
Pengelompokan menurut tingkat kerumitan perangkat media, khususnya media audio-visual, dilakukan oleh C.J Duncan, dengan menyususn suatu hirarki. Dari hirarki yang digambarkan oleh Duncan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat hirarki suatu media, semakin rendah satuan biayanya dan semakin khusus sifat penggunaannya. Namun demikian, kemudahan dan keluwesan penggunaannya semakin bertambah. Begitu juga sebaliknya, jika suatu media berada pada hirarki paling rendah. Schramm (dalam Sadiman, dkk., 1986) juga melakukan pegelompokan media berdasarkan tingkat kerumitan dan besarnya biaya. Dalam hal ini, menurut Schramm ada dua kelompok media yaitu big media (rumit dan mahal) dan little media (sederhana dan murah). Lebih jauh lagi ahli ini menyebutkan ada media massal, media kelompok, dan media individu, yang didasarkan atas daya liput media.
Beberapa ahli yang lain seperti Gagne, Briggs, Edling, dan Allen, membuat taksonomi media dengan pertimbangan yang lebih berfokus pada proses dan interaksi dalam belajar, ketimbang sifat medianya sendiri. Gagne misalnya, mengelompokkan media berdasarkan tingkatan hirarki belajar yang dikembangkannya. Menurutnya, ada 7 macam kelompok media seperti: benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Briggs mengklasifikasikan media menjadi 13 jenis berdasarkan kesesuaian rangsangan yang ditimbulkan media dengan karakteristik siswa. Ketiga belas jenis media tersebut adalah: objek/benda nyata, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai, film (16 mm), film rangkai, televisi, dan gambar (grafis).
Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran pun mengalami perkembangan melalui pemanfaatan teknologi itu sendiri. Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, Arsyad (2002) mengklasifikasikan media atas empat kelompok: 1) media hasil teknologi cetak, 2) media hasil teknologi audio-visual, 3) media hasil teknologi berbasis komputer, dan 4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Seels dan Glasgow (dalam Arsyad, 2002) membagi media ke dalam dua kelompok besar, yaitu: media tradisional dan media teknologi mutakhir. Pilihan media tradisional berupa media visual diam tak diproyeksikan dan yang diproyeksikan, audio, penyajian multimedia, visual dinamis yang diproyeksikan, media cetak, permainan, dan media realia. Sedangkan pilihan media teknologi mutakhir berupa media berbasis telekomunikasi (misal teleconference) dan media berbasis mikroprosesor (misal: permainan komputer dan hypermedia).
Dari beberapa pengelompokkan media yang dikemukakan di atas, tampaknya bahwa hingga saat ini belum terdapat suatu kesepakatan tentang klasifikasi (sistem taksonomi) media yang baku. Dengan kata lain, belum ada taksonomi media yang berlaku umum dan mencakup segala aspeknya, terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Atau memang tidak akan pernah ada suatu sistem klasifikasi atau pengelompokan yang sahih dan berlaku umum. Meskipun demikian, apapun dan bagaimanapun cara yang ditempuh dalam mengklasifikasikan media, semuanya itu memberikan informasi tentang spesifikasi media yang sangat perlu kita ketahui. Pengelompokan media yang sudah ada pada saat ini dapat memperjelas perbedaan tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam memilih media yang sesuai untuk suatu pembelajaran tertentu.
• KARAKTERISTIK BEBERAPA JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi. Misalnya, Schramm melihat karakteristik media dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran yang dapat diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh pemakai (Sadiman, dkk., 1990). Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat indera. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai karakteristik media pembelajaran sangat penting artinya untuk pengelompokan dan pemilihan media. Kemp, 1975, (dalam Sadiman, dkk., 1990) juga mengemukakan bahwa karakteristik media merupakan dasar pemilihan media yang disesuaikan dengan situasi belajar tertentu.
Gerlach dan Ely mengemukakan tiga karakteristik media berdasarkan petunjuk penggunaan media pembelajaran untuk mengantisipasi kondisi pembelajaran di mana guru tidak mampu atau kurang efektif dapat melakukannya. Ketiga karakteristik atau ciri media pembelajaran tersebut (Arsyad, 2002) adalah: a) ciri fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek; b) ciri manipulatif, yaitu kamampuan media untuk mentransformasi suatu obyek, kejadian atau proses dalam mengatasi masalah ruang dan waktu. Sebagai contoh, misalnya proses larva menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan waktu yang lebih singkat (atau dipercepat dengan teknik time-lapse recording). Atau sebaliknya, suatu kejadian/peristiwa dapat diperlambat penayangannya agar diperoleh urut-urutan yang jelas dari kejadian/peristiwa tersebut; c) ciri distributif, yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan kepada sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Berdasarkan uraian sebelumnya, ternyata bahwa karakteristik media, klasifikasi media, dan pemilihan media merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran. Banyak ahli, seperti Bretz, Duncan, Briggs, Gagne, Edling, Schramm, dan Kemp, telah melakukan pengelompokan atau membuat taksonomi mengenai media pembelajaran. Dari sekian pengelompokan tersebut, secara garis besar media pembelajaran dapat diklasifikasikan atas: media grafis, media audio, media proyeksi diam (hanya menonjolkan visual saja dan disertai rekaman audio), dan media permainan-simulasi. Arsyad (2002) mengklasifikasikan media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil teknologi berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Masing-masing kelompok media tersebut memiliki karakteristik yang khas dan berbeda satu dengan yang lainnya. Karakteristik dari masing-masing kelompok media tersebut akan dibahas dalam uraian selanjutnya.
Media grafis. Pada prinsipnya semua jenis media dalam kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbul-simbul visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan. Karakteristik yang dimiliki adalah: bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang masalah apa saja dan pada tingkat usia berapa saja, murah harganya dan mudah mendapatkan serta menggunakannya, terkadang memiliki ciri abstrak (pada jenis media diagram), merupakan ringkasan visual suatu proses, terkadang menggunakan simbul-simbul verbal (pada jenis media grafik), dan mengandung pesan yang bersifat interpretatif.
Media audio. Hakekat dari jenis-jenis media dalam kelompok ini adalah berupa pesan yang disampaikan atau dituangkan kedalam simbul-simbul auditif (verbal dan/atau non-verbal), yang melibatkan rangsangan indera pendengaran. Secara umum media audio memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut: mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu (mudah dipindahkan dan jangkauannya luas), pesan/program dapat direkam dan diputar kembali sesukanya, dapat mengembangkan daya imajinasi dan merangsang partisipasi aktif pendengarnya, dapat mengatasi masalah kekurangan guru, sifat komunikasinya hanya satu arah, sangat sesuai untuk pengajaran musik dan bahasa, dan pesan/informasi atau program terikat dengan jadwal siaran (pada jenis media radio).
Media proyeksi diam. Beberapa jenis media yang termasuk kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam penyajiannya. Ada kalanya media ini hanya disajikan dengan penampilan visual saja, atau disertai rekaman audio. Karakteristik umum media ini adalah: pesan yang sama dapat disebarkan ke seluruh siswa secara serentak, penyajiannya berada dalam kontrol guru, cara penyimpanannya mudah (praktis), dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan indera, menyajikan obyek -obyek secara diam (pada media dengan penampilan visual saja), terkadang dalam penyajiannya memerlukan ruangan gelap, lebih mahal dari kelompok media grafis, sesuai untuk mengajarkan keterampilan tertentu, sesuai untuk belajar secara berkelompok atau individual, praktis dipergunakan untuk semua ukuran ruangan kelas, mampu menyajikan teori dan praktek secara terpadu, menggunakan teknik-teknik warna, animasi, gerak lambat untuk menampilkan obyek/kejadian tertentu (terutama pada jenis media film), dan media film lebih realistik, dapat diulang-ulang, dihentikan, dsb., sesuai dengan kebutuhan.
Media permainan dan simulasi. Ada beberapa istilah lain untuk kelompok media pembelajaran ini, misalnya simulasi dan permainan peran, atau permainan simulasi. Meskipun berbeda-beda, semuanya dapat dikelompkkan ke dalam satu istilah yaitu permainan (Sadiman, 1990). Ciri atau karakteristik dari media ini adalah: melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses belajar, peran pengajar tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah aktivitas interaksi antar pebelajar, dapat memberikan umpan balik langsung, memungkinkan penerapan konsep-konsep atau peran-peran ke dalam situasi nyata di masyarakat, memiliki sifat luwes karena dapat dipakai untuk berbagai tujuan pembelajaran dengan mengubah alat dan persoalannya sedikit saja, mampu meningkatkan kemampuan komunikatif pebelajar, mampu mengatasi keterbatasan pebelajar yang sulit belajar dengan metode tradisional, dan dalam penyajiannya mudah dibuat serta diperbanyak.

• MANFAAT MEDIA
Secara umum manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci. Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran, yaitu :
1) Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan
2) Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
4) Efisiensi dalam waktu dan tenaga
5) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
6) Memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
7) Dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
8) Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Selain beberapa manfaat media tersebut di atas, kita masih dapat menemukan banyak manfaat praktis yang lain. Manfaat praktis media pembelajaran, antara lain :
1) Konkritisasi konsep yang abstrak
2) Membawa pesan dari obyek yang berbahaya dan sukar,
3) Menampilkan obyek yang terlalu besar
4) Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati oleh mata telanjang
5) Mengamati gerakan yang terlalu cepat
6) Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan
7) Memungkinkan pengamatan dan persepsi yang seragam bagi pengalaman belajar siswa
8) Membangkitkan motivasi siswa
9) Memberi kesan perhatian individual bagi kelompok belajar
10) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan


• KESIMPULAN
Ada beberapa batasan atau pengertian tentang media pembelajaran yang disampaikan oleh para ahli. Dari batasan-batasan tersebut, dapat dirangkum bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk meyampaikan isi materi ajar dari sumber belajar ke pebelajar (individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa sehingga proses belajar (di dalam/di luar kelas) menjadi lebih efektif.
Dalam awal perkembangannya, media memiliki posisi sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran, yaitu alat bantu mengajar bagi guru (teaching aids). Sebagai alat bantu dalam mengajar, media diharapkan dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar, mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang, misalnya dalam teknologi komunikasi dan informasi pada saat ini, media pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses belajar dan bukan semata-mata sebagai alat bantu. Media adalah bagian integral dari proses belajar mengajar. Dalam posisi seperti ini, penggunaan media pembelajaran dikaitkan dengan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media, yang mungkin tidak mampu dilakukan oleh guru (atau guru melakukannya kurang efisien). Dengan kata lain, bahwa posisi guru sebagai fasilitator dan media memiliki posisi sebagai sumber belajar yang menyangkut keseluruhan lingkungan di sekitar pebelajar.
Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman dan retensi yang lebih baik terhadap isi pelajaran. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih “hidup”, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pebelajar terhadap materi ajar. Jadi, sasaran akhir penggunaan media adalah untuk memudahkan belajar, bukan kemudahan mengajar (Degeng, 2001).
Usaha-usaha ke arah pembuatan sistem taksonomi media pembelajaran telah dilakukan oleh para ahli dengan dasar pertimbangannya masing-masing. Duncan dan Scrhamm mengelompokkan media berdasarkan kerumitan dan biayaya. Sedangkan Gagne, Briggs, Edling, dan Allen, membuat taksonomi media dengan pertimbangan yang lebih berfokus pada proses dan interaksi dalam belajar, ketimbang sifat medianya sendiri. Rudy Bretz, mengklasifikasikan media berdasarkan unsur pokoknya yaitu suara, visual, dan gerak. Klasifikasi berdasarkan pemanfaatan dan perkembangan teknologi dilakukan oleh Arsyad dan Seels & Glasgow. Walaupun demikian, belum ada taksonomi media yang baku, berlaku umum dan mencakup segala aspeknya, terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Pengelompokan media yang sudah ada pada saat ini dapat memperjelas perbedaan tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam memilih media yang sesuai untuk suatu pembelajaran tertentu.
Setiap jenis media memiliki karakteristiknya yang khas, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi (misalnya dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran yang dapat diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh pemakai, menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat indera, dan petunjuk penggunaannya untuk mengatasi kondisi pembelajaran). Secara umum media pembelajaran memiliki tiga karakteristik atau ciri yaitu: a) ciri fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek; b) ciri manipulatif, yaitu kamampuan media untuk mentransformasi suatu obyek, kejadian atau proses dalam mengatasi masalah ruang dan waktu.; c) ciri distributif, yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan kepada sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Artikel ini milik dan karya: I Wayan Sukra Warpala
• DAFTAR RUJUKAN
Anderson, R. H. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, Alih bahasa oleh: Yusufhadi Miarso, dkk., edisi 1. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali.
Arsyad, A. 2002. Media Pembelajaran, edisi 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Bruner, J. S. 1966. Toward a Theory of Instruction. Cambridge: Harvad University.
Criticos, C. 1996. Media selection. Plomp, T & Ely, D.P (Eds): International Encyclopedia of Educational Technology, 2nd ed. UK: Cambridge University Press. pp. 182 - 185.
Degeng, N. S. 2001. Media Pembelajaran. Dalam kumpulan makalah PEKERTI (Pengembangan Keterampilan Instruntur) untuk Quatum Teaching. Karya tidak diterbitkan.
Gagne, R. M. 1985. The Condition of Learning and Theory of Instruction, 4th ed. New York: CBS College Publishing.
Gagne, R.M., Briggs, L.J & Wager, W.W. 1988. Principles of Instruction Design, 3rd ed. New York: Saunders College Publishing.
Hamalik, O. 1994. Media Pendidikan, cetakan ke-7. Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.
Heinich, R., Molenda, M., & Russel, J.D. 1993. Instructional Media and the New Technologies of Instruction, 4th ed. New York: Macmillan Publishing Company.
Sadiman, A.S., Rahardjo, R., Haryono, A., & Rahadjito. 1990. Media Pendidikan: pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya, edisi 1. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali.
Sudjana, N. & Rivai, A. 1992. Media Pengajaran. Bandung: Penerbit CV. Sinar Baru Badung.